VIRUS NIPAH
02 MARET 2026
Virus Nipah adalah virus zoonosis dari famili Paramyxoviridae (genus Henipavirus) yang menular dari hewan (terutama kelelawar buah Pteropus) ke manusia, menyebabkan infeksi pernapasan akut dan radang otak (ensefalitis) fatal. Virus ini memiliki tingkat kematian tinggi (40-75%) dan disebarkan melalui kontak langsung dengan cairan tubuh hewan atau manusia yang terinfeksi.
Poin penting tentang virus Nipah:
● Inang alami adalah kelelawar buah. Awalnya, penularan virus Nipah terjadi dari kelelawar buah ke hewan-hewan peternakan, seperti babi. Namun, tidak hanya babi, beberapa hewan peternakan atau peliharaan lain, seperti kambing, kuda, anjing, atau bahkan kucing, juga dapat tertular dan akhirnya ikut menularkan virus Nipah.
● Penularan ke manusia dapat terjadi jika seseorang mengkonsumsi hewan ternak yang terinfeksi atau terpapar cairan tubuh (darah dan kotoran) dari hewan yang terinfeksi. Selanjutnya, penularan antar manusia dapat terjadi melalui kontak erat dengan cairan tubuh penderita, termasuk droplet, darah, dan urine. Orang-orang yang termasuk dalam kelompok risiko tinggi tertular virus Nipah adalah:
○ Orang yang mengonsumsi cairan nira mentah dan belum difermentasi, makanan, atau buah, yang terkontaminasi virus Nipah
○ Orang yang baru saja bepergian ke daerah yang sedang mewabah virus Nipah
○ Orang yang terpapar cairan tubuh dari hewan atau orang lain yang terinfeksi, termasuk droplet yang dikeluarkan saat batuk atau bersin, darah, kotoran, urine, ataupun air liur
○ Orang yang melakukan kontak dekat dengan hewan atau orang lain yang terinfeksi virus Nipah, misalnya tenaga medis atau pekerja di pusat layanan kesehatan masyarakat
○ Pekerja pemanjat pohon yang menjadi tempat kelelawar buah bertengger atau tinggal, misalnya pohon nira, juga diketahui berisiko tertular virus Nipah
○ Orang dengan kondisi tubuh tertentu. Sehingga, meski virus ini termasuk sangat berbahaya, namun penyebaran sangat lambat. Jika cepat, tentu penyebaran akan seperti pandemi virus yang belum lama terjadi
● Masa inkubasi 4-14 hari, dengan gejala awal berupa demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, sakit tenggorokan, dan muntah. Pada kasus berat, terjadi peradangan otak (ensefalitis) yang menyebabkan disorientasi, kejang, koma, hingga kematian.
Saat ini belum ada vaksin atau pengobatan spesifik untuk virus Nipah. Juga belum ditemukan pengobatan yang efektif untuk virus ini. Pencegahan dilakukan dengan menghindari kontak dengan kelelawar/babi sakit, tidak mengkonsumsi nira mentah, menjaga kebersihan dan meningkatkan daya tahan tubuh. Virus ini diidentifikasi pertama kali di Malaysia (1998-1999). Sampai saat ini belum ada laporan kasus manusia di Indonesia. Meskipun demikian, potensi risiko tetap ada. Pengobatan infeksi virus Nipah diutamakan pada penanganan gejala berat (perawatan suportif), mengatasi dehidrasi dan memperbaiki daya tahan tubuhnya.
Produk tusyifa untuk membantu mencegah, mengatasi dan mempercepat kesembuhan adalah 1x t.raga pagi dan 1x t.abato malam.
Semoga bermanfaat
🙏🏻🙏🏻